Jumat, 14 Juni 2019

Di Bantaeng Uang Panaik (Mahar) Rp 300 Juta, Kuda 1 Ekor, Emas 1 Stel dan Beras 1 Ton

Prosesi lamaran atau mappetuada Iin Ariska Syahrir, polwan asal Bantaeng mendadak viral.

Pasalnya, dalam prosesi lamaran yang dilangsungkan Rabu, 10 Juni kemarin, di Bonto Lebang, Kecamatan Bissapu, Kabupaten Bantaeng, pihak keluarga pria memberikan uang panaik yang terbilang fantastis.

Proses Mappetuada tersebut sontak menjadi perbincangan ketika foto-foto Iin diungga di media sosial Facebook.

Akun Facebook Rudy Drc memposting foto Iin dan jumlah Uang Panaik dengan tulisan "Bripda IIN ARISKA SYAHRIR.  PEMECAH REKOR BANTAENG UANG PANAIKNYA 300 JUTA + KUDA 1 EKOR + EMAS 1 STEL + BERAS 1 TON".

Tak ayal, postingan itu mendapat banyak tanggapan dari netizen perihal Uang Panaik yang dinilai sangat fantastis itu.

Kisa romantisme pernikahan dengan mahar atau panaik tinggi, bukan kali pertama terjadi. Beberapa kasus pernah terjadi di Bone, Maros, Jeneponto, dan beberapa daerah lain di Sulawesi Selatan.

" Uang panai" atau uang belanja untuk pengantin mempelai wanita yang diberikan oleh pengantin pria merupakan tradisi adat suku Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan. Uang panai ini sejak dulu berlaku sebagai mahar jika pria ingin melamar wanita idamannya hingga sekarang.

Konon zaman dulu, para orangtua ingin melihat keseriusan sang pria dalam melamar anak wanitanya sehingga sang pria betul-betul berusaha mengupayakan uang panai untuk mendapatkan wanita pujaan hatinya. 

Makanya susah untuk mendapatkan orang suku Bugis Makassar, tapi susah pula lepasnya atau bercerai. Dalam artian, tingginya harga panai akan membuat pihak lelaki akan berpikir seribu kali untuk menceraikan istrinya karena ia sudah berkorban banyak untuk mempersunting istrinya.
Cheap Website Traffic